Petunjuk Mudah...... !
Klik BERANDA (pada Daftar Halaman).
Anda akan masuk ke Daftar Isi semua posting Blog.
Selamat menikmati.
--------------------------------------------------------------
Prolog
------------------------------
Bismillahirrahmanirrahiim
Selamat Datang di Blog Kami, semoga Informasi yang anda cari tersedia dan silahkan dibaca, dicopy atau dibagi kepada siapapun yang membutuhkan.
Etika berkunjung, silahkan anda tinggalkan NAMA atau EMAIL sebagai niat baik & ijin.
insya Allah, ILMU yang ada disini akan membawa berkah & manfaat untuk kita semua. Amin.
Bagi yang berkenan silahkan kasih komentar dengan Sopan & Santun sebagai perwujudan ukhuwah islamiyah.
Bagi yang yang tidak berkenan, kami mohon maaf.
( Harap cantumkan nama Gus Is - 1hati17an.blogspot.com )
-----------------------------
Tampilkan postingan dengan label Keutamaan Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keutamaan Ilmu. Tampilkan semua postingan
Rabu, 10 Juli 2013
Sebuah
Kisah Si Pencari Ilmu
Al kisah, seorang nenek tinggal beserta dua
orang cucunya di sebuah gubuk kecil di kaki bukit. Nenek itu sudah cukup renta,
dan sering sakit-sakitan. Setahun sudah sang nenek sakit dan kondisinya pun
semakin lemah. Mengetahui kondisinya yang menjelang ajal, akhirnya ia memanggil
kedua cucunya untuk menyampaikan pesan-pesan terakhirnya.
Kedua cucu kakak beradik itu duduk
di samping neneknya sambil memijiti kakinya, kemudian berkata kepada cucunya,
"Cucuku, rasanya ajalku semakin dekat dan tidak akan ada lagi yang akan
menjaga kalian. Untuk itu aku ingin memberikan sesuatu agar
kalian tidak kekurangan setelah aku tinggalkan." Kakak beradik itu
tertegun setelah mendengar ucapan neneknya, dan berkata "Nenek jangan
berkata begitu".
Dengan lirih, sang nenek kembali
berkata, "Aku ingin kalian menuju ke suatu daerah, untuk itu aku akan
memberi kalian sebuah peta perjalanan. Tapi setahuku, daerah yang dimaksud itu
sangat jauh dan butuh waktu tempuh bertahun-tahun. Mungkin kalian akan sampai
disana ketika usia kalian menjelang senja. Untuk biaya ke sana nenek mungkin
tidak punya uang banyak. Tapi untuk perjalanan pertama akan nenek berikan emas simpanan
nenek. Emas itu hanya dapat digunakan sampai ke kota pertama. Setelah itu
kalian cari biaya sendiri," jelas sang nenek.
"Kenapa Kami Harus Kesana
Nek?", Kata cucu pertama. "Bukankan di kota terdekat kami bisa hidup
dan tinggal di sana?" lanjutnya.
Neneknya menjawab, "Disana kalian
akan mendapatkan sesuatu yang berharga."
"Apa itu nek?" tanya cucu ke
dua.
"Kalian akan tahu sendiri ketika
kalian sampai di sana". Akhirnya kata itu adalah kata terakhir yang
terucap dari bibir sang nenek. Dan sang nenek pun meninggal dunia.
Sehari setelah berkabung. Mereka mulai
memikirkan wasiat terakhir neneknya. "Bagaimana dik, apakah kita berangkat
sekarang menuju tempat yang dikatakan nenek?" ujar cucu pertama yang lebih
tua beberapa tahun dari adiknya. "Sebaiknya kita berangkat segera
kak" jawab adiknya.
Setelah sebulan perjalanan yang
melelahkan kedua saudara itu pun sampai di sebuah desa. Di sekitar desa itu
dipenuhi oleh lahan pertanian yang luas. Masyarakat disana hidup bertani. Saat
mereka datang tampak sebagian besar penduduknya sedang memanen hasil
pertaniannya. Melihat itu, sang kakak pun berkata, "Dik, makmur sekali
negeri ini." Adiknya menimpali, "Di tempat kita tidak pernah kita
temui hasil panen yang sebagus ini".
Kedua saudara itu tampak
terkagum-kagum dengan pandangan di depan matanya. "Oh ya... bukankah uang
kita telah habis untuk sebulan perjalanan?" tanya sang kakak.
"Bagaimana kalau kita mengumpulkan uang dulu untuk bekal perjalanan
berikutnya?" tambahnya lagi. Adiknya setuju. Akhirnya mereka berdua bekerja
pada sebuah keluarga yang memiliki lahan yang luas. Disana mereka diajarkan
bercocok tanam sehingga mereka bisa menjadi pekerja di kebun itu.
Tak terasa, enam bulan sudah mereka
disana. Tanaman yang mereka tanam sudah menampakkan hasil. Sepekan setelah itu
mereka akan menuai panen. "Tampaknya hasil panen ini akan cukup untuk
perjalanan berikutnya," ujar sang kakak.
Usai panen, akhirnya mereka meneruskan
perjalanan menuju daerah berikutnya.
Daerah kedua yang mereka temui adalah
sebuah padang rumput yang luas. Mereka kembali heran, bagaimana masyarakat
disana hidup? Tidak sedikitpun terlihat daerah sesubur tempat yang mereka
kunjungi pertama kali. Namun, di balik bukit mereka menemui segerombolan domba
yang jumlahnya ratusan. Beberapa saat setelah itu mereka sadar bahwa mata
pencaharian masyarakat disana adalah beternak.
"Kak, baru kali ini aku menemui
peternakan domba yang sebesar ini" ujar sang adik kagum. Kakaknya pun
meng-iyakan. "Kalau begitu, seperti sebelumnya, kita harus mengumpulkan
bekal dulu untuk perjalanan berikutnya. Bagaimana kalau kita coba bekerja pada
tuan pemilik peternakan ini?" seru sang kakak.
Mereka mulai bekerja sambil belajar
bagaimana merawat ternak yang baik.
Genap setahun, mereka kembali
memikirkan perjalanan mereka. "Sudah saatnya kita berangkat dik",
ujar sang kakak tetap bersemangat. "Saya sepertinya tinggal di sini saja
kak" jawab sang adik ragu. Sang kakak pun kaget mendengar ucapan adiknya.
"Apa kamu tidak ingin menunaikan wasiat nenek?" tanya sang kakak
menahan emosi. "Saya pikir nenek hanya menginginkan kebahagiaan untuk kita
dan saya sudah bahagia disini, sebentar lagi saya akan memperoleh hasil yang
cukup besar dan itu bisa saya kembangkan disini," jawab sang adik.
Sang kakak pun akhirnya mengalah.
Pemuda itu berangkat sendiri ke daerah
berikutnya. Setelah beberapa pekan perjalanannya, dia pun sampai di sebuah
pantai. Dimana masyarakatnya hidup sebagai nelayan. Dan seperti biasa, ia
tinggal disana beberapa waktu untuk menyiapkan bekal berjalanannya. Begitu
seterusnya. Separuh dari umurnya sudah melewati berbagai daerah dengan suasana
dan kehidupan yang berbeda.
Suatu saat, sang lelaki itu sampai
pada suatu daerah yang unik. Dalam setiap perjalanannya baru kali ini dia
menemui negeri yang memiliki alam yang indah dengan kehidupan masyarakatnya
hampir semuanya makmur. Disana dia menemui daerah yang memiliki semua ciri yang
ada pada setiap perjalanannya. Masyarakat disana hidup dengan berbagai corak
yang berbeda, ada yang berdagang, bertani, nelayan, dan di pusat kota terdapat
bangunan-bangunan indah dan megah. Sungguh sebuah negeri yang sempurna.
Mendadak sang pemuda memperhatikan dirinya di sebuah cermin. Dia kaget, melihat
sosok yang ada di cermin tersebut. Tampak kulit wajah yang mulai keriput dan
rambut yang hampir separuhnya memutih. Dia teringat akan
perkataan neneknya. "perjalanan itu akan sampai pada usia kamu menjelang
senja".
Sang cucu akhirnya merenung,
mungkinkah ini daerah akhir dari perjalanannya? Tapi apa yang akan aku dapatkan
di sini? Untuk meyakinkan dirinya dia mencoba melihat peta pemberian neneknya.
Benar, sepertinya inilah daerah terakhir yang aku tuju. Tapi apa yang aku
dapatkan di sini?
Beberapa pekan setelah itu.
Ada pengumuman bahwa Sang Raja mencari
orang yang memiliki keterampilan yang banyak dan ilmu yang luas untuk dijadikan
penasehatnya. Berduyun-duyun masyarakat disana mulai mendaftar dan
masing-masing harus mengikuti seleksi dari kerajaan. Setelah melalui tahap
seleksi yang panjang, akhirnya diumumkan bahwa yang berhak menjadi penasehat
Raja adalah seorang pemuda yang bernama Karim.
Karim. Dialah lelaki yang menghabiskan
umurnya dengan melakukan perjalanan panjang tadi.
Eramuslim
***
Sobat, perjalanan mencari ilmu adalah
sebuah perjalanan panjang usia kita. Rasulullah pernah mengatakan,
"Tuntutlah ilmu dari semenjak lahir hingga ke liang lahat". Betapa
Rasulullah memuliakan ilmu dengan menyuruh kita belajar hingga ajal menjelang.
Kita juga pernah mendenger anjuran,
"Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina". Betapa pentingnya ilmu hingga
jarak yang jauh tidak menjadi hambatan untuk mempelajarinya.
Ali Bin Abu thalib mengatakan bahwa
ilmu itu lebih baik dari pada harta, karena ilmu akan menjaga kamu sedangkan
kamu harus menjaga harta. Ilmu itu akan bertambah jika diberikan sementara
harta akan berkurang jika diberikan. Ulama itu tetap hidup meskipun jasadnya
telah tiada karena pemikirannya masih tetap ada.
Rasullullah bersabda "Barang
siapa yang menuntut ilmu bukan karena Allah maka ia tidak akan keluar dari
dunia sehingga ilmu itu datang (memaksa) agar menuntut ilmunya itu karena
Allah. Barang siapa yang menuntut ilmu karena Allah maka ia seperti orang yang
berpuasa pada siang dan bangun untuk beribadah pada malam hari. Dan
sesungguhnya satu bab ilmu yang dipelajari oleh seseorang itu lebih baik
daripada ia mempunyai emas sebesar bukit Abu Qubais lalu ia menginfakkan pada
jalan Allah Ta'ala".
Amal
adalah pasangan Ilmu. Tanpa amal, ilmu akan mati. Tanpa amal ilmu tiada
guna. Tanpa
amal ilmu akan pergi meninggalkan kita. Maka amalkanlah ilmu.
Sufyan Ats-Tsauri berkata: "Ilmu
itu pada mulanya adalah diam, kemudian mendengarkan, lalu menghafalkan
(mengingat), lantas mengamalkannya, dan terakhir menyiarkannya".
Saya teringat sebuah kata-kata, "tidak ada
lift untuk menuntut ilmu, kita harus menaikinya melewati setiap anak
tangga".
Dan Thomas Alfa Edison pun
berkata, "Genius is one percent inspiration and ninety-nine percent
perspiration".
Publikasi oleh : http://1hati17an.blogspot.com
Manfaatkah ILMU mu....?
Bismillahirahmanirahim..
Apakah hakikat ilmu yang bermanfaat itu? Secara syariat,
suatu ilmu disebut bermamfaat apabila mengandung mashlahat – memiliki
nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, mamfaat
tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin
merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan
ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum
tentu meningkat pula di hadapan-Nya.
Oleh karena itu, dalam kacamata ma’rifat, gambaran ilmu
yang bermamfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli
hikmah. “Ilmu yang berguna,” ungkapnya, “ialah yang meluas di dalam dada sinar
cahayanya dan membuka penutup hati.” seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah
tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata, “Yang bernama ilmu itu bukanlah
kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang
diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk
mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”
Ilmu itu hakikatnya adalah
kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah
ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya.
sesuai dengan firman-Nya, “Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta
untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum
habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan
sebanyak itu (pula).” (QS. Al Kahfi [18] : 109).
Adapun ilmu yang dititipkan kepada
manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas.
Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan
ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11).
Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun !
Akan tetapi, walaupun hanya
“setetes” ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak
ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada
Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari.
sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya
kita akan mendapatkan mamfaat darinya.
Hal lain yang
hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat
memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat
membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh
kepada gurunya. “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali
memahaminya dan bahkan cepat lupa?” Sang guru menjawab, “Ilmu itu ibarat
cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.” Artinya, ilmu
itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.
Karenanya,
jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis
ta’lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa
demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air
kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat
apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah
kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang
ilmu tidak akan pernah menerangi hati.
Padahal kalau
hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening.
Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita
menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika
menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati
yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan
untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh
Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu
datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala
sesuatu yang akan membawa mudharat.
Sebaik-baik
ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib
menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga
ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat.
Bila mendapat
air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit)
untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu
yang bisa menjadi “tawas”-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain
yang kita kaji bisa diserap seraya membawa mamfaat.
Mengapa
demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya
dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya
akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan
membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain,
sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami
ilmu ma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya
membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain
sesat.
Oleh karena
itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati
dalam rangka ma’rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di
dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat
dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir,
mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat
kecilnya kita ini di hadapan-Nya.
Kita lahir ke
dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa
apa-apa.
Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum’ah. Merasa diri besar,
sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh.
Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal,
bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang
sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita?
Subhanallaah!
Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi
penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub
kepada-Nya.
( Gus Is - http://1hati17an.blogspot.com )
Read more...
Label:
Keutamaan Ilmu
Jumat, 05 Juli 2013
Keutamaan ILMU (1)
Wajib Menuntut Ilmu
- Nabi Muhammad saw
bersabda :
طَــلَبُ الْـعِـلْمِ فَـرِ يْـضَـةٌ عَـلىَ
كُـلِّ مُسْــلِـمٍ وَ مُسْـلِـمَـةٍ
Menuntut ‘ilmu adalah
fardhu kifayah bagi tiap-tiap Muslim baik ia Laki-laki maupun Wanita”.
Baik yang berhubungan dengan Aqo’id maupun
Ibadah Dunia dan Akhirat :
مَنْ اَرَ ادَ الـدُّ نْــيَافَـعَـلَـيْـهِ
بِـالْـعِـلْمِ، وَمَنْ اَرَ ادَ الأخِرَ ةَ فَـعَـلَــيْـهِ بِـالْـعِـلْمِ وَ
مَنْ اَرَ ادَ هُـمَـا فَــعَــلَــيْــهِ بـِا لْـعِـلْـــمِ
“Barangsiapa
yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan urusan Dunia. Wajib ia
memiliki ‘ilmu nya. Dan barangsiapa yang ingin (bahagia di) Akhirat. Wajib ia
memiliki ‘ilmunya. Dan barangsiapa yang meng inginkan ke dua-duanya. Wajib pula
ia memiliki ‘ilmu kedua-duanya”. (Dalam batas-batas yang diridhoi Allah) (H.R. Al-Buhori dan Muslim)
Jaminan
Bagi Pencari Ilmu
-
Wahai Insan ! Didalam menuntut ‘Ilmu, tidak ada istilah ketinggalan, apakah ia
masih Muda atau sudah Dewasa atau yang sudah Tua. Tidak perlu merinding untuk
mencari ‘ilmu dan mempelajarinya lalu di’amalkan. Namun carilah ‘ilmu yang
menjadi bekal semoga bahagia di Dunia dan Bahagia pula di Akhirat nanti. Nabi
saw bersabda :
“Sungguh, sekiranya engkau melangkahkan
Kaki di waktu pagi (maupun petang). Kemudian kamu mempelajari satu ayat dari
Kitab Allah (Al-Qur-aan). maka pahalanya lebih baik dari Ibadah satu tahun”. (H.R.
Ath-Turmudzy).
- ”Anda pergi, lalu mempelajari sesuatu ayat dari Kitab Allah.
(Al-Qur-aan), lebih baik bagi engkau, daripada Sholat Seratus Raka’at”. (H.R. Ibnu Majah )
- “Barangsiapa yang pergi menuntut ‘ilmu, maka ia telah termasuk golongan
Fi-Sabilillah (orang yang menegakkan Agama Allah). Hingga ia sampai kembali”
(kerumahnya). (H.R. At-Thirmidzy)
Larangan Sombong
- Kendatipun demikian, kita wajib intropeksi
diri, sebab mungkin saja kita terdorong oleh Hawa Nafsu yang ber-tengger Setan
didalamnya, lalu setelah ‘ilmu didapat, maka ia langsung membusungkan dada dan
memproklamirkan diri. Bahwa ia sendiri yang ber’ilmu tinggi. Orang lain semuanya
rendah, seperti yang disinyalir oleh sabda Nabi Muhammad saw :
“Janganlah kalian menuntut
‘ilmu untuk dibanggakan pada kalangan para Ulama. Atau untuk diperdebatkan di
kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Dan jangan pula menuntut
‘ilmu untuk penampilan dalam Majelis. Atau untuk menarik perhatian orang-orang
kepa damu. Barang siapa yang berbuat seperti itu. Maka bagi nya Neraka ! Neraka
! (H.R.At-Turmudzy dan Ibnu
Majah)
"Allah Ta’ala Berfirman :
قَالَ
الـلّـــهُ تَــعَـلىَ: أَلــكِـبْـرِيَـاءِ رِدَ ائِـيْ، وَ الْـعَـظِـمَـةُ
إِزَارِى، فَـمَـنْ نَـازَعَـنِى وَ احِدً ا مِـنْـهُـمَا أَلــقَــيْـتَـهُ فِيْ
جَــهَــنَّـمَ
Kebesaran (Kesombongan
atau Kecongka-an) adalah pakaian-KU.Dan ke-Agungan adalah kain-KU. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Maka akan AKU lempar ia
kedalam Neraka Jahannam”. (Hadits
Qudsi)
Derajat Orang berilmu
- Ditinjau dari segi derajat, maka sangat jauh bedanya
antara orang yang ber’ilmu dengan orang yang tidak ber’ilmu. Tingginya derajat
orang ber’ilmu diakui Allah dan Rasul-Nya, serta diakui oleh seluruh manusia
yang mempunyai ‘akal. Firman
Allah :
… قُـلْ هَـلْ يـَسْــتَـوِى
الَّـذِيْـنَ يـَعْـلَـمُوْنَ وَالَّـذِيْـنَ لاَ يـَعْـلَـمُوْنَ اِ نَّـمَا
يَــتَـذَ كَّـــرُ اُوْلُـوا اْلاَ لْــــبَـابِ
“Katakanlah ! Adakah sama orang-orang yang ber’ilmu
dengan orang yang tidak ber’ilmu ? Hanya
orang-orang yang ber’akal yang bisa menerima pelajaran”.
Allah berfirman :
… يَـرْفَعِ الـلّـــهُ الَّذِيْـنَ
امَــنُـوْامِنْـكُمْ وَالَّـذِيْنَ اُوْتُـواالْـعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَ
الـلّـــــــــهُ بِــمَاتَــعْـمَـلُـوْنَ خَـبِــيْـرً
ا
“… Niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang yang
ber’ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S.Al-Mujaadalah
:11).
Jelaslah
bahwa Iman dan ‘Ilmu tidak bisa dipisah-pisah. Para orang Arif berkata : “Iman
tanpa ‘ilmu Hampa !". ,,Ilmu tanpa Iman Binasa ! ” - Kedua-duanya
termasuk kedalam golongan orang yang Fasiq, sedangkan orang yang fasiq
tempatnya adalah Neraka Jahanam tingkat paling bawah. Oleh karena itu
imbangilah ‘ilmu dengan Iman. Karena Iman inilah yang akan membersihkan ‘ilmu
dari kesesatan. Dan iman ini pulalah yang bisa mengantarkan manusia menuju
kebahagiaan hidup di Akhirat. Kendatipun demikian, melaksanakan keimanan tanpa
‘ilmu, hasilnya akan nihil dan kosong serta hampa.
Pentingnya ILMU HATI & ETIKANYA
-
Kita tidak dibatasi untuk menuntut ‘Ilmu. Dipersilakan mempelajari semua ‘Ilmu
yang ada di alam ini. Bahkan dianjurkan untuk mempelajarinya, baik itu Ilmu
Agama & ilmu Pengetahuan. Tetapi alangkah baiknya jika ‘Ilmu tersebut
diimbangi dengan mempelajari ‘Ilmu Hati (qolbi) agar bisa seimbang dan paralel.
Sebab
setelah kita perhatikan perkembangan zaman. Dapat kita rasakan pada era zaman
sekarang ini, banyak lahir penyakit berpola baru. Dan bernama baru, sehingga
para Dokter sendiri tidak tahu namanya. Padahal empat belas abad yang lalu
Al-Qur-aan telah menyatakan, bahwa Al-Qur-aan sanggup menjadi Penawar Hati dan
Rahmat bagi semua Makhluq. Terutama penyakit yang berada didalam Sudur (Dada)
yaitu "Hati". Yang demikian ini empat belas abad yang lalu telah
disitir oleh Hadits Nabi S.a.w :
أَلاَوَ إِنَّ فِى
الْـجَسَـدِمُضْغَـةَ، إِذَاصَـلُـحَتْ صَـلُـحَ الْـجَـسَـدُكُــلُّـهُ وَ إِذا فَسَــدَتْ فَسَــدَ
الْـجَسَـدُ كُـلُّـهُ ، أَ لاَ وَ هِيَ
الْـقَــلْـبُ
” Ketahuilah ! Sesungguhnya dalam Tubuh Manusia itu, ada
segumpal Daging. Apabila ia baik. (maka) seluruh Tubuh akan baik. Dan apabila ia rusak.
Maka seluruh Tubuh akan rusak. Ketahuilah ! ia adalah Hati. (Al-Bukhori)
Oleh karena itu,
carilah ilmu yang bisa menenteramkan hati. Dalam hal ini Nabi saw bersabda :
تَــعَـلَّـمُـوْالْـعِلْـمَ وَ
تَـعَـلَّـمُـوْالـِلْـعِلْـمِ السَّــكِـــيْــنَـةَ وَ الْــوَ قَـارَ وَ تَــوَا ضَعُـوْا
لِـمَـنْ تَــعَــلَّــمُـوْنَ مِـنْـهُ
"Tuntutlah ‘ilmu dan belajarlah (untuk
‘ilmu) Ketenangan dan Kehormatan diri. Dan
bersikaplah rendah Hati kepada orang yang mengajari kamu". (H.R. Muslim)
Jika
direnungkan Hadits diatas, maka akan timbul dalam pemikiran siapapun. Bahwa
untuk mencari ‘ilmu ketenangan dan bersikap rendah Hati terhadap Guru.
Label:
Keutamaan Ilmu
Langganan:
Postingan (Atom)


