Naungan - Usaha & Produk

Daftar Halaman

  • Beranda
  • Motivaqolbi
  • Titian Hikmah
  • StoriesofHikmah
  • Banyak Cinta
  • Kehebatan Doa
  • Kehebatan Ayat
  • Kajian Ghaib
  • Tasawwuf
  • Anda Perlu Tahu
  • Catatan
  • Tips Kesehatan
  • eBook
  • Software
  • Kitab-Kitab
  • Photo Ulama'
  • Photo Acara
  • Sesungguhnya LIDAH ORANG BIJAK itu ada dibalik hatinya. Apabila dia ingin berkata maka dia kembali kepada hatinya. Jika itu bermanfa'at baginya maka dia berkata. Namun jika itu berdampak buruk baginya maka diapun menahan mulutnya (sama dengan tulisan). Sedangkan ORANG BODOH, hatinya berada diujung lidahnya. Dia tidak kembali kepada hatinya. Apa saja yang ada dimulutnya maka dia ucapkan (sama dengan tulisan). --- Siapapun bisa menjadi ORANG BIJAK selama dia bisa menjaga perasaan/ emosionalnya & LISANNYA (tulisannya). Perasaan tidak cocok, tidak sepaham & tidak senang tidak perlu kita tampakkan jika anda ingin jadi ORANG BIJAK. --- Menjadi Orang bodoh sangat lebih mudah, biar bertitel SARJANA ataupun berilmu tapi tidak bisa mengendalikan perasaannya. lihatlah Lisan & Tangannya akan menampakkannya. Siapa dirinya sebenarnya.
Petunjuk Mudah...... !
Klik BERANDA (pada Daftar Halaman).
Anda akan masuk ke Daftar Isi semua posting Blog.
Selamat menikmati.
--------------------------------------------------------------

Q-Power (Miracle Heart Energy)

Q-Power (Miracle Heart Energy)
klik gambar untuk melihat website energi q

Prolog

------------------------------

Bismillahirrahmanirrahiim

Selamat Datang di Blog Kami, semoga Informasi yang anda cari tersedia dan silahkan dibaca, dicopy atau dibagi kepada siapapun yang membutuhkan.

Etika berkunjung, silahkan anda tinggalkan NAMA atau EMAIL sebagai niat baik & ijin.

insya Allah, ILMU yang ada disini akan membawa berkah & manfaat untuk kita semua. Amin.

Bagi yang berkenan silahkan kasih komentar dengan Sopan & Santun sebagai perwujudan ukhuwah islamiyah.

Bagi yang yang tidak berkenan, kami mohon maaf.

( Harap cantumkan nama Gus Is - 1hati17an.blogspot.com )

-----------------------------

Tampilkan postingan dengan label Keutamaan Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keutamaan Ilmu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juli 2013

Sebuah Kisah Mencari Ilmu

Sebuah Kisah Si Pencari Ilmu
Al kisah, seorang nenek tinggal beserta dua orang cucunya di sebuah gubuk kecil di kaki bukit. Nenek itu sudah cukup renta, dan sering sakit-sakitan. Setahun sudah sang nenek sakit dan kondisinya pun semakin lemah. Mengetahui kondisinya yang menjelang ajal, akhirnya ia memanggil kedua cucunya untuk menyampaikan pesan-pesan terakhirnya.
Kedua cucu kakak beradik itu duduk di samping neneknya sambil memijiti kakinya, kemudian berkata kepada cucunya, "Cucuku, rasanya ajalku semakin dekat dan tidak akan ada lagi yang akan menjaga kalian. Untuk itu aku ingin memberikan sesuatu agar kalian tidak kekurangan setelah aku tinggalkan." Kakak beradik itu tertegun setelah mendengar ucapan neneknya, dan berkata "Nenek jangan berkata begitu".
Dengan lirih, sang nenek kembali berkata, "Aku ingin kalian menuju ke suatu daerah, untuk itu aku akan memberi kalian sebuah peta perjalanan. Tapi setahuku, daerah yang dimaksud itu sangat jauh dan butuh waktu tempuh bertahun-tahun. Mungkin kalian akan sampai disana ketika usia kalian menjelang senja. Untuk biaya ke sana nenek mungkin tidak punya uang banyak. Tapi untuk perjalanan pertama akan nenek berikan emas simpanan nenek. Emas itu hanya dapat digunakan sampai ke kota pertama. Setelah itu kalian cari biaya sendiri," jelas sang nenek.
"Kenapa Kami Harus Kesana Nek?", Kata cucu pertama. "Bukankan di kota terdekat kami bisa hidup dan tinggal di sana?" lanjutnya.
Neneknya menjawab, "Disana kalian akan mendapatkan sesuatu yang berharga."
"Apa itu nek?" tanya cucu ke dua.
"Kalian akan tahu sendiri ketika kalian sampai di sana". Akhirnya kata itu adalah kata terakhir yang terucap dari bibir sang nenek. Dan sang nenek pun meninggal dunia.
Sehari setelah berkabung. Mereka mulai memikirkan wasiat terakhir neneknya. "Bagaimana dik, apakah kita berangkat sekarang menuju tempat yang dikatakan nenek?" ujar cucu pertama yang lebih tua beberapa tahun dari adiknya. "Sebaiknya kita berangkat segera kak" jawab adiknya.
Setelah sebulan perjalanan yang melelahkan kedua saudara itu pun sampai di sebuah desa. Di sekitar desa itu dipenuhi oleh lahan pertanian yang luas. Masyarakat disana hidup bertani. Saat mereka datang tampak sebagian besar penduduknya sedang memanen hasil pertaniannya. Melihat itu, sang kakak pun berkata, "Dik, makmur sekali negeri ini." Adiknya menimpali, "Di tempat kita tidak pernah kita temui hasil panen yang sebagus ini".
Kedua saudara itu tampak terkagum-kagum dengan pandangan di depan matanya. "Oh ya... bukankah uang kita telah habis untuk sebulan perjalanan?" tanya sang kakak. "Bagaimana kalau kita mengumpulkan uang dulu untuk bekal perjalanan berikutnya?" tambahnya lagi. Adiknya setuju. Akhirnya mereka berdua bekerja pada sebuah keluarga yang memiliki lahan yang luas. Disana mereka diajarkan bercocok tanam sehingga mereka bisa menjadi pekerja di kebun itu.
Tak terasa, enam bulan sudah mereka disana. Tanaman yang mereka tanam sudah menampakkan hasil. Sepekan setelah itu mereka akan menuai panen. "Tampaknya hasil panen ini akan cukup untuk perjalanan berikutnya," ujar sang kakak.
Usai panen, akhirnya mereka meneruskan perjalanan menuju daerah berikutnya.
Daerah kedua yang mereka temui adalah sebuah padang rumput yang luas. Mereka kembali heran, bagaimana masyarakat disana hidup? Tidak sedikitpun terlihat daerah sesubur tempat yang mereka kunjungi pertama kali. Namun, di balik bukit mereka menemui segerombolan domba yang jumlahnya ratusan. Beberapa saat setelah itu mereka sadar bahwa mata pencaharian masyarakat disana adalah beternak.
"Kak, baru kali ini aku menemui peternakan domba yang sebesar ini" ujar sang adik kagum. Kakaknya pun meng-iyakan. "Kalau begitu, seperti sebelumnya, kita harus mengumpulkan bekal dulu untuk perjalanan berikutnya. Bagaimana kalau kita coba bekerja pada tuan pemilik peternakan ini?" seru sang kakak.
Mereka mulai bekerja sambil belajar bagaimana merawat ternak yang baik.
Genap setahun, mereka kembali memikirkan perjalanan mereka. "Sudah saatnya kita berangkat dik", ujar sang kakak tetap bersemangat. "Saya sepertinya tinggal di sini saja kak" jawab sang adik ragu. Sang kakak pun kaget mendengar ucapan adiknya. "Apa kamu tidak ingin menunaikan wasiat nenek?" tanya sang kakak menahan emosi. "Saya pikir nenek hanya menginginkan kebahagiaan untuk kita dan saya sudah bahagia disini, sebentar lagi saya akan memperoleh hasil yang cukup besar dan itu bisa saya kembangkan disini," jawab sang adik.
Sang kakak pun akhirnya mengalah.
Pemuda itu berangkat sendiri ke daerah berikutnya. Setelah beberapa pekan perjalanannya, dia pun sampai di sebuah pantai. Dimana masyarakatnya hidup sebagai nelayan. Dan seperti biasa, ia tinggal disana beberapa waktu untuk menyiapkan bekal berjalanannya. Begitu seterusnya. Separuh dari umurnya sudah melewati berbagai daerah dengan suasana dan kehidupan yang berbeda.
Suatu saat, sang lelaki itu sampai pada suatu daerah yang unik. Dalam setiap perjalanannya baru kali ini dia menemui negeri yang memiliki alam yang indah dengan kehidupan masyarakatnya hampir semuanya makmur. Disana dia menemui daerah yang memiliki semua ciri yang ada pada setiap perjalanannya. Masyarakat disana hidup dengan berbagai corak yang berbeda, ada yang berdagang, bertani, nelayan, dan di pusat kota terdapat bangunan-bangunan indah dan megah. Sungguh sebuah negeri yang sempurna. Mendadak sang pemuda memperhatikan dirinya di sebuah cermin. Dia kaget, melihat sosok yang ada di cermin tersebut. Tampak kulit wajah yang mulai keriput dan rambut yang hampir separuhnya memutih. Dia teringat akan perkataan neneknya. "perjalanan itu akan sampai pada usia kamu menjelang senja".
Sang cucu akhirnya merenung, mungkinkah ini daerah akhir dari perjalanannya? Tapi apa yang akan aku dapatkan di sini? Untuk meyakinkan dirinya dia mencoba melihat peta pemberian neneknya. Benar, sepertinya inilah daerah terakhir yang aku tuju. Tapi apa yang aku dapatkan di sini?
Beberapa pekan setelah itu.
Ada pengumuman bahwa Sang Raja mencari orang yang memiliki keterampilan yang banyak dan ilmu yang luas untuk dijadikan penasehatnya. Berduyun-duyun masyarakat disana mulai mendaftar dan masing-masing harus mengikuti seleksi dari kerajaan. Setelah melalui tahap seleksi yang panjang, akhirnya diumumkan bahwa yang berhak menjadi penasehat Raja adalah seorang pemuda yang bernama Karim.
Karim. Dialah lelaki yang menghabiskan umurnya dengan melakukan perjalanan panjang tadi.
 Eramuslim
***

Sobat, perjalanan mencari ilmu adalah sebuah perjalanan panjang usia kita. Rasulullah pernah mengatakan, "Tuntutlah ilmu dari semenjak lahir hingga ke liang lahat". Betapa Rasulullah memuliakan ilmu dengan menyuruh kita belajar hingga ajal menjelang.
Kita juga pernah mendenger anjuran, "Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina". Betapa pentingnya ilmu hingga jarak yang jauh tidak menjadi hambatan untuk mempelajarinya.
Ali Bin Abu thalib mengatakan bahwa ilmu itu lebih baik dari pada harta, karena ilmu akan menjaga kamu sedangkan kamu harus menjaga harta. Ilmu itu akan bertambah jika diberikan sementara harta akan berkurang jika diberikan. Ulama itu tetap hidup meskipun jasadnya telah tiada karena pemikirannya masih tetap ada.
Rasullullah bersabda "Barang siapa yang menuntut ilmu bukan karena Allah maka ia tidak akan keluar dari dunia sehingga ilmu itu datang (memaksa) agar menuntut ilmunya itu karena Allah. Barang siapa yang menuntut ilmu karena Allah maka ia seperti orang yang berpuasa pada siang dan bangun untuk beribadah pada malam hari. Dan sesungguhnya satu bab ilmu yang dipelajari oleh seseorang itu lebih baik daripada ia mempunyai emas sebesar bukit Abu Qubais lalu ia menginfakkan pada jalan Allah Ta'ala".
Amal adalah pasangan Ilmu. Tanpa amal, ilmu akan mati. Tanpa amal ilmu tiada guna. Tanpa amal ilmu akan pergi meninggalkan kita. Maka amalkanlah ilmu.
Sufyan Ats-Tsauri berkata: "Ilmu itu pada mulanya adalah diam, kemudian mendengarkan, lalu menghafalkan (mengingat), lantas mengamalkannya, dan terakhir menyiarkannya".

Saya teringat sebuah kata-kata, "tidak ada lift untuk menuntut ilmu, kita harus menaikinya melewati setiap anak tangga".

Dan Thomas Alfa Edison pun berkata, "Genius is one percent inspiration and ninety-nine percent perspiration".

Read more...

Manfaatkah ILMU mu....?

Bismillahirahmanirahim..
temonsoejadi - Ada sebait do’a yang pernah diajarkan Rasulullah SAW dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do’a tersebut berbunyi : Allaahummanfa’nii bimaa allamtanii wa’allimnii maa yanfa’uni wa zidnii ilman maa yanfa’unii. dengan do’a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermamfaat.
Apakah hakikat ilmu yang bermanfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermamfaat apabila mengandung mashlahat – memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, mamfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.
Oleh karena itu, dalam kacamata ma’rifat, gambaran ilmu yang bermamfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. “Ilmu yang berguna,” ungkapnya, “ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati.” seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata, “Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”
Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, “Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al Kahfi [18] : 109).

Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11). Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun  !


Akan tetapi, walaupun hanya “setetes” ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan mamfaat darinya.

Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?” Sang guru menjawab, “Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.” Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.

Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta’lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.

Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.
Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat.

Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi “tawas”-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa mamfaat.
Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmu ma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat.

Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma’rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.
Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. 

Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum’ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita?
Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya.

Read more...

Jumat, 05 Juli 2013

Keutamaan ILMU (1)

Wajib Menuntut Ilmu
- Nabi Muhammad saw bersabda :

طَــلَبُ الْـعِـلْمِ فَـرِ يْـضَـةٌ عَـلىَ كُـلِّ مُسْــلِـمٍ وَ مُسْـلِـمَـةٍ

Menuntut ‘ilmu adalah fardhu kifayah bagi tiap-tiap Muslim baik ia Laki-laki maupun Wanita”.

 Baik yang berhubungan dengan Aqo’id maupun Ibadah Dunia dan Akhirat :

مَنْ اَرَ ادَ الـدُّ نْــيَافَـعَـلَـيْـهِ بِـالْـعِـلْمِ، وَمَنْ اَرَ ادَ الأخِرَ ةَ فَـعَـلَــيْـهِ بِـالْـعِـلْمِ وَ مَنْ اَرَ ادَ هُـمَـا فَــعَــلَــيْــهِ بـِا لْـعِـلْـــمِ
 “Barangsiapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan urusan Dunia. Wajib ia memiliki ‘ilmu nya. Dan barangsiapa yang ingin (bahagia di) Akhirat. Wajib ia memiliki ‘ilmunya. Dan barangsiapa yang meng inginkan ke dua-duanya. Wajib pula ia memiliki ‘ilmu kedua-duanya”. (Dalam batas-batas yang diridhoi Allah)  (H.R. Al-Buhori dan Muslim)

Jaminan Bagi Pencari Ilmu
 - Wahai Insan ! Didalam menuntut ‘Ilmu, tidak ada istilah ketinggalan, apakah ia masih Muda atau sudah Dewasa atau yang sudah Tua. Tidak perlu merinding untuk mencari ‘ilmu dan mempelajarinya lalu di’amalkan. Namun carilah ‘ilmu yang menjadi bekal semoga bahagia di Dunia dan Bahagia pula di Akhirat nanti. Nabi saw bersabda :
Sungguh, sekiranya engkau melangkahkan Kaki di waktu pagi (maupun petang). Kemudian kamu mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Qur-aan). maka pahalanya lebih baik dari Ibadah satu tahun”.  (H.R. Ath-Turmudzy).
- ”Anda pergi, lalu mempelajari sesuatu ayat dari Kitab Allah. (Al-Qur-aan), lebih baik bagi engkau, daripada Sholat Seratus Raka’at”.  (H.R. Ibnu Majah )
- “Barangsiapa yang pergi menuntut ‘ilmu, maka ia telah termasuk golongan Fi-Sabilillah (orang yang menegakkan Agama Allah). Hingga ia sampai kembali” (kerumahnya). (H.R. At-Thirmidzy)

Larangan Sombong
- Kendatipun demikian, kita wajib intropeksi diri, sebab mungkin saja kita terdorong oleh Hawa Nafsu yang ber-tengger Setan didalamnya, lalu setelah ‘ilmu didapat, maka ia langsung membusungkan dada dan memproklamirkan diri. Bahwa ia sendiri yang ber’ilmu tinggi. Orang lain semuanya rendah, seperti yang disinyalir oleh sabda Nabi Muhammad saw :
 “Janganlah kalian menuntut ‘ilmu untuk dibanggakan pada kalangan para Ulama. Atau untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Dan jangan pula menuntut ‘ilmu untuk penampilan dalam Majelis. Atau untuk menarik perhatian orang-orang kepa damu. Barang siapa yang berbuat seperti itu. Maka bagi nya Neraka ! Neraka ! (H.R.At-Turmudzy dan Ibnu Majah)
"Allah Ta’ala Berfirman :
قَالَ الـلّـــهُ تَــعَـلىَ: أَلــكِـبْـرِيَـاءِ رِدَ ائِـيْ، وَ الْـعَـظِـمَـةُ إِزَارِى، فَـمَـنْ نَـازَعَـنِى وَ احِدً ا مِـنْـهُـمَا أَلــقَــيْـتَـهُ فِيْ جَــهَــنَّـمَ
Kebesaran (Kesombongan atau Kecongka-an) adalah pakaian-KU.Dan ke-Agungan adalah kain-KU. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Maka akan AKU lempar ia kedalam Neraka Jahannam”. (Hadits Qudsi)

Derajat Orang berilmu
- Ditinjau dari segi derajat, maka sangat jauh bedanya antara orang yang ber’ilmu dengan orang yang tidak ber’ilmu. Tingginya derajat orang ber’ilmu diakui Allah dan Rasul-Nya, serta diakui oleh seluruh manusia yang mempunyai ‘akal. Firman Allah :
قُـلْ هَـلْ يـَسْــتَـوِى الَّـذِيْـنَ يـَعْـلَـمُوْنَ وَالَّـذِيْـنَ لاَ يـَعْـلَـمُوْنَ اِ نَّـمَا يَــتَـذَ كَّـــرُ اُوْلُـوا اْلاَ لْــــبَـابِ
“Katakanlah ! Adakah sama orang-orang yang ber’ilmu dengan orang yang tidak ber’ilmu ? Hanya orang-orang yang ber’akal yang bisa menerima pelajaran”.
 Allah berfirman :
يَـرْفَعِ الـلّـــهُ الَّذِيْـنَ امَــنُـوْامِنْـكُمْ وَالَّـذِيْنَ اُوْتُـواالْـعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَ الـلّـــــــــهُ بِــمَاتَــعْـمَـلُـوْنَ خَـبِــيْـرً ا
“… Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang yang ber’ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S.Al-Mujaadalah :11).
 Jelaslah bahwa Iman dan ‘Ilmu tidak bisa dipisah-pisah. Para orang Arif berkata : “Iman tanpa ‘ilmu Hampa !". ,,Ilmu tanpa Iman Binasa ! ” - Kedua-duanya termasuk kedalam golongan orang yang Fasiq, sedangkan orang yang fasiq tempatnya adalah Neraka Jahanam tingkat paling bawah. Oleh karena itu imbangilah ‘ilmu dengan Iman. Karena Iman inilah yang akan membersihkan ‘ilmu dari kesesatan. Dan iman ini pulalah yang bisa mengantarkan manusia menuju kebahagiaan hidup di Akhirat. Kendatipun demikian, melaksanakan keimanan tanpa ‘ilmu, hasilnya akan nihil dan kosong serta hampa.

Pentingnya ILMU HATI & ETIKANYA
 - Kita tidak dibatasi untuk menuntut ‘Ilmu. Dipersilakan mempelajari semua ‘Ilmu yang ada di alam ini. Bahkan dianjurkan untuk mempelajarinya, baik itu Ilmu Agama & ilmu Pengetahuan. Tetapi alangkah baiknya jika ‘Ilmu tersebut diimbangi dengan mempelajari ‘Ilmu Hati (qolbi) agar bisa seimbang dan paralel.
Sebab setelah kita perhatikan perkembangan zaman. Dapat kita rasakan pada era zaman sekarang ini, banyak lahir penyakit berpola baru. Dan bernama baru, sehingga para Dokter sendiri tidak tahu namanya. Padahal empat belas abad yang lalu Al-Qur-aan telah menyatakan, bahwa Al-Qur-aan sanggup menjadi Penawar Hati dan Rahmat bagi semua Makhluq. Terutama penyakit yang berada didalam Sudur (Dada) yaitu "Hati". Yang demikian ini empat belas abad yang lalu telah disitir oleh Hadits Nabi S.a.w :

أَلاَوَ إِنَّ فِى الْـجَسَـدِمُضْغَـةَ، إِذَاصَـلُـحَتْ صَـلُـحَ الْـجَـسَـدُكُــلُّـهُ وَ إِذا فَسَــدَتْ فَسَــدَ الْـجَسَـدُ كُـلُّـهُ ، أَ لاَ وَ هِيَ الْـقَــلْـبُ
Ketahuilah ! Sesungguhnya dalam Tubuh Manusia itu, ada segumpal Daging. Apabila ia baik. (maka) seluruh Tubuh akan baik. Dan apabila ia rusak. Maka seluruh Tubuh akan rusak. Ketahuilah ! ia adalah Hati. (Al-Bukhori)
Oleh karena itu, carilah ilmu yang bisa menenteramkan hati. Dalam hal ini Nabi saw bersabda :

تَــعَـلَّـمُـوْالْـعِلْـمَ وَ تَـعَـلَّـمُـوْالـِلْـعِلْـمِ السَّــكِـــيْــنَـةَ وَ الْــوَ قَـارَ وَ تَــوَا ضَعُـوْا لِـمَـنْ تَــعَــلَّــمُـوْنَ مِـنْـهُ
"Tuntutlah ‘ilmu dan belajarlah (untuk ‘ilmu) Ketenangan dan Kehormatan diri. Dan bersikaplah rendah Hati kepada orang yang mengajari kamu". (H.R. Muslim)

Jika direnungkan Hadits diatas, maka akan timbul dalam pemikiran siapapun. Bahwa untuk mencari ‘ilmu ketenangan dan bersikap rendah Hati terhadap Guru.















Read more...

About This Blog

  © Blogger template The Business Templates by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP